ternyata dalam agama islam ada hitungan yang pasti dalam amal kita.
kita mulai dari Amal baik yang dilipatkan 10 kali sedangkan amal buruk hanya dibalas sesuai dengan perbuatannya. jika kita berpuasa selama satu bulan, maka amal kita akan sama dengan 10 bulan. oleh karena itu jika setelah Ramadhan kita tambah puasa kita 6 hari pada bulan syawal maka kita akan mendapatkan pahala puasa satu tahun. karena 6 hari kali 10 sama dengan 60 hari sama dengan 2 bulan. jika kita tambahkan dengan puasa Ramadhan (1 bulan x 10 = 10 bulan), maka jumlah keseluruhan adalah 12 bulan. sungguh hasil yang sangat eksak dan tidak ditawar-tawar. dari sinilah para ulama menganjurkan kita untuk berpuasa 6 hari setelah bulan puasa agar kita mendapat pahala puasa satu tahun.
selain nilai matematis diatas, ada juga nilai-nilai amal yang bersifat bonus. artinya, amal kita dilipatkan lebih dari 10 sesuai kaidah diatas. contohnya kelipatan amal kita yang berupa shodaqoh jariah. amal ini dilipatkan 700 kali. dalam Al-Quran orang yang bershodaqoh jariah seperti orang yang menanam sebuah benih padi yang akan tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkai berisi seratus benih. coba dihitung (1×7×100=700). contoh lain adalah lailatul Qodar, pahala amal di malam lailatul Qodar dilipatkan seribu kali. dalam al-Quran disebutkan bahwa malam lailatul Qodar lebih baik daripada seribu bulan.
nilai-nilai bonus inilah yang menjadikan orang-orang umat Nabi Muhammad bisa melebihi umat-umat zaman dulu yang umurnya panjang sekali. jika pada malam lailatul Qodar kita membaca Al-Quran, maka kita seperti membaca AlQuran seribu malam. jika kita sholat tarawih dengan niat menghidupkan malam lailatul Qodar maka kita seperti sholat tarawih seribu malam. begitu juga sebaliknya, jika kita berbuat dosa pada malam itu, maka kita seperti berbuat dosa selama seribu malam. oleh karena itu, bagi anda yang masih ingin berniat jahat sebaiknya ditunda setelah Ramadhan karena ditakutkan saat Anda berbuat dosa dimalam Ramadhan bertepatan dengan malam lailatul Qodar. hati-hati!
ada pertimbangan lain yang dapat kita jadikan barometer dalam beramal. Imam As-Syatibi (penulis buku Al-Muwafaqoot) memiliki kesimpulan bahwa amal perbuatan kita memiliki ganjaran yang setimpal dengan kemaslahatan yang akan ditimbulkan oleh amal tersebut. ketika amal tersebut berdampak kemaslahatan yang besar, maka pahalanya juga besar. jika kemaslahatannya kecil, maka pahalanya juga kecil. begitu juga sebaliknya, jika kemadharattan yang ditimbulkan oleh amal kita sangat besar, maka dosanya juga besar.
sebelum kita terapkan hasil kesimpulan As-Syathibi, mari kita tinjau kembali makna maslahat menurut Imam Ghazali. Menurut Imam Ghazali kemaslahatan adalah segala bentuk tindakan mengambil manfaat dan menghindari kerusakan. tingkatan kemaslahatan ada tiga macam, yaitu kemaslahatan primer, skunder dan tersier. kemaslahatan primer mencakup lima hal yaitu menjaga agama, jiwa, akal, harta dan kehormatan. sedangkan kemaslahatan skunder adalah hal-hal yang menunjang keperluan kemaslahatan primer. sedangkan kemaslahatan tersier adalah kemaslahatan yang menunjang keperluan skunder.
dengan demikian, amal kita yang berkaitan dengan kemaslahatan primer, pahalanya paling tinggi. sedangkan amal kita yang berkaitan dengan kemaslahatan skunder berada dibawahnya begitu juga tersier. sebaliknya, jika amal kita justru menimbulkan kemadhorotan yang berkaitan dengan keperluan primer, maka dosanya sangat besar.
oleh karena itu berhati-hatilah terhadap amal yang dapat merusak kebutuhan primer di atas, terutama kebutuhan menjaga agama.
Sekecil apapun amal kita, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakannya.